KUALA LUMPUR – Kampung Kerinchi berdiri sebagai salah satu pemukiman paling bersejarah sekaligus kontemporer di jantung ibu kota Malaysia. Kawasan ini bermula dari gelombang migrasi besar-besaran masyarakat etnik Kerinchi asal Jambi, Sumatra, pada akhir abad ke-19. Para perantau tersebut membuka lahan di pinggiran Kuala Lumpur dan membawa serta identitas kultural mereka yang kuat, hingga akhirnya kawasan ini secara resmi menyandang nama “Kampung Kerinchi” sekitar tahun 1890-an.
Dalam perjalanannya, Kampung Kerinchi melewati transformasi drastis dari perkampungan tradisional menjadi hub bisnis kelas dunia. Pada tahun 2012, para pengembang properti sempat mengubah nama kawasan ini menjadi Bangsar South demi mendongkrak nilai prestise dan komersial. Namun, gelombang protes masyarakat yang ingin mempertahankan akar sejarah akhirnya membuahkan hasil. Melalui inisiatif pemerintah pada tahun 2019, identitas Kampung Kerinchi secara resmi kembali dan bersanding harmonis dengan kemewahan Bangsar South.
Fakta Menarik Kampung Kerinchi Malaysia:
-
Asal-Usul Nama: Mengambil nama dari etnik Kerinci (Jambi) yang bermigrasi ke Tanah Melayu untuk menghindari penindasan kolonial Belanda.
-
Tokoh Perintis: Abdullah Hukum, seorang pembesar Melayu terkemuka, menjadi salah satu sosok kunci yang membuka penempatan ini bersama para pengikutnya.
-
Hub Teknologi & Bisnis: Kini menjadi rumah bagi gedung-gedung pencakar langit seperti Menara Telekom (yang menyerupai Stark Tower) dan kompleks perkantoran UOA.
-
Aksesibilitas Tinggi: Kawasan ini memiliki konektivitas luar biasa melalui dua stesen LRT (Kerinchi dan Universiti) serta akses langsung ke Federal Highway.
-
Keunikan Kuliner: Meskipun sudah modern, Anda masih bisa menemukan jejak kuliner dan komunitas masyarakat keturunan Kerinci yang masih fasih berbahasa daerah asalnya.
Transformasi Menjadi Destinasi Ikonik
Kini, Kampung Kerinchi menyajikan kontras yang memukau antara gedung perkantoran mewah, kondominium high-end, dan perumahan rakyat yang tetap terjaga. Pengunjung dapat menikmati fasilitas gaya hidup modern seperti pusat perbelanjaan The Sphere yang menawarkan konsep ruang terbuka hijau di tengah hiruk-pikuk kota. Keberhasilan mengembalikan nama asli kawasan ini menjadi simbol penting bahwa kemajuan teknologi tidak harus mengubur warisan sejarah dan identitas bangsa.***








