JAMBI – Para pencinta astronomi kini tengah menantikan momen langka berupa gerhana matahari total paling lama dalam satu abad terakhir. Berdasarkan kalender astronomi NASA, fenomena spektakuler ini akan menyapa penghuni Bumi pada 2 Agustus 2027 mendatang. Meskipun waktu pelaksanaannya masih cukup lama, Anda perlu menyiapkan rencana perjalanan sejak dini mengingat jalur totalitas fenomena ini tidak melewati wilayah Indonesia.
Melansir laporan Martha Stewart, Senin (19/1/2026), NASA memprediksi jalur gerhana akan bermula dari Maroko dan Spanyol bagian selatan. Selanjutnya, bayangan Bulan akan bergerak melintasi Aljazair, Tunisia, Libya, Mesir, hingga Arab Saudi, sebelum berakhir di pantai Somalia dan Yaman.
Titik puncak fenomena ini berada di dekat Luxor, Mesir, dengan durasi totalitas mencapai enam menit 23 detik. Oleh karena itu, peristiwa ini menyandang gelar sebagai gerhana matahari total terlama hingga tahun 2132 mendatang. Saat fase totalitas berlangsung, Bulan akan menutupi piringan Matahari secara sempurna sehingga menciptakan kegelapan sesaat. Pada saat itulah, bintang dan planet akan tampak di langit, sementara atmosfer luar Matahari yang berwarna putih atau korona akan terlihat jelas.
Kejutan “Cincin Api” di Februari 2026
Selain rencana besar di tahun 2027, fenomena gerhana matahari cincin terdekat justru akan terjadi pada 17 Februari 2026. Tepat pukul 04.56 WIB, Bulan mulai mengubah wujud Matahari menjadi penampakan “cincin api” yang ikonik. Puncak penutupan cakram surya ini diprediksi berlangsung pada pukul 12.12 GMT.
Meskipun demikian, Space.com mencatat bahwa hanya pengamat di jalur cincin sepanjang 4.282 kilometer saja yang bisa menyaksikannya secara utuh. Sayangnya, fase cincin api ini hanya melintasi wilayah terpencil di Antartika. Sementara itu, penduduk di sebagian Afrika Selatan dan ujung Amerika Selatan hanya berkesempatan melihat gerhana matahari sebagian.
Halaman : 1 2 Selanjutnya









