JAKARTA – Samsung Electronics Indonesia resmi menggebrak pasar teknologi dengan memperkenalkan Galaxy S26 Series sebagai pelopor ponsel berbasis kecerdasan buatan (AI Phone). Perangkat ini membawa misi besar untuk menghentikan ketergantungan pengguna pada interaksi manual seperti sentuhan berulang (tap) dan pengguliran layar (scroll). Melalui inovasi ini, Samsung menanamkan kecerdasan buatan sebagai inti utama penggerak perangkat, bukan sekadar pelengkap fitur semata.
President of Samsung Electronics Indonesia, Harry Lee, mengungkapkan bahwa industri ponsel kini tengah bergeser ke arah pengalaman yang lebih intuitif. Menurutnya, Galaxy S26 Series bertindak sebagai asisten pribadi yang memahami tujuan pengguna bahkan sebelum perintah manual diberikan. Sistem cerdas ini mampu memangkas tahapan rumit yang selama ini menghambat efisiensi dalam mengoperasikan sebuah ponsel pintar.
Transformasi Menjadi Asisten Digital Mandiri
Samsung merancang teknologi dalam Galaxy S26 ini untuk bertransformasi menjadi personalized agent. Perangkat tersebut tidak lagi bersifat pasif menunggu instruksi, melainkan aktif memberikan solusi berdasarkan konteks aktivitas penggunanya. Untuk mendukung performa tersebut, Samsung membenamkan chipset mutakhir yang memiliki pengoptimalan khusus pada pemrosesan AI di dalam perangkat (on-device AI).
Langkah strategis ini juga menjadikan Galaxy S26 sebagai motor penggerak transisi teknologi di Indonesia. Harry Lee menekankan bahwa pasar Indonesia memiliki kecepatan adopsi teknologi yang luar biasa, sehingga kehadiran agentic AI akan sangat membantu produktivitas masyarakat. Pada akhirnya, ponsel ini mengubah cara pandang dunia terhadap smartphone, dari sekadar alat komunikasi menjadi mitra kerja cerdas yang mandiri dan adaptif.***








