JAKARTA – Dunia kesehatan saat ini mengawali kewaspadaan tinggi terhadap kemunculan kembali Virus Nipah, sebuah patogen zoonosis yang sangat mematikan. Dikutip dari Kompas.com, otoritas medis global hingga detik ini belum berhasil menemukan vaksin ataupun obat khusus untuk menangani infeksi ini. Oleh karena itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan Nipah sebagai salah satu virus paling berisiko. Hal ini merujuk pada tingkat kematian yang sangat tinggi serta potensi penyebaran lintas negara yang cepat.
Berdasarkan laporan Independent pada Rabu (28/1/2026), Pemerintah India saat ini bekerja keras menekan laju penularan virus tersebut di wilayah Benggala Barat. Pemerintah mengambil langkah tegas ini setelah otoritas mengonfirmasi dua kasus positif di kawasan tersebut. Sebagai tindakan preventif, petugas kesehatan mengarantina hampir 200 orang yang sempat berinteraksi jarak dekat dengan pasien. Meskipun hasil tes seluruh kontak erat tersebut menunjukkan status negatif, kemunculan kasus ini tetap memicu alarm kewaspadaan di seluruh Asia. Bahkan, beberapa negara mulai mengaktifkan kembali skrining kesehatan ketat di bandara internasional bagi pelancong dari wilayah terdampak.
Mengenal Karakteristik dan Cara Penularan
Melansir data dari Badan Keamanan Kesehatan Inggris, virus Nipah tergolong dalam penyakit zoonosis, yakni infeksi yang berpindah dari hewan ke manusia. Adapun proses penularannya mencakup kontak fisik dengan hewan yang sakit, konsumsi makanan yang tercemar air liur atau kotoran hewan, hingga transmisi antarmanusia.
Secara historis, virus ini pertama kali menggemparkan dunia pada tahun 1999 saat menyerang peternak babi di Malaysia dan Singapura. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa kelelawar buah dari genus Pteropus merupakan inang alami (reservoir) utama virus ini. Selain kelelawar, sejumlah hewan ternak seperti babi, kambing, domba, hingga anjing dan kucing juga dapat mengidap infeksi ini dan menjadi perantara penularan bagi manusia.
Waspadai Gejala Mirip Flu dan Risiko Peradangan Otak
Terkait gejala klinis, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) memperingatkan bahwa infeksi Nipah sangat sulit terdeteksi sejak dini. Hal ini terjadi karena tanda-tanda awalnya tidak spesifik dan menyerupai influenza. Secara umum, masa inkubasi virus ini berlangsung antara 4 hingga 21 hari.
Pada tahap awal, pasien biasanya merasakan keluhan sebagai berikut:
-
Demam tinggi mendadak dan nyeri otot.
-
Sakit kepala hebat dan kelelahan ekstrem.
-
Gangguan pernapasan akut hingga pneumonia.
Namun demikian, komplikasi yang paling menakutkan dari serangan virus ini adalah ensefalitis atau peradangan otak. Kondisi fatal tersebut menunjukkan tanda-tanda seperti kebingungan, penurunan kesadaran, kejang, hingga koma. Bahkan, para penyintas infeksi Nipah memikul risiko dampak jangka panjang seperti gangguan saraf permanen atau perubahan kepribadian.
Tingkat Fatalitas yang Sangat Tinggi
Mengingat angka kematian yang terlapor berkisar antara 40 hingga 75 persen, virus Nipah menjadi salah satu ancaman kesehatan paling serius saat ini. Sampai sekarang, para dokter hanya bisa memberikan perawatan suportif guna menangani gejala yang muncul, karena dunia belum memiliki terapi antivirus yang terbukti efektif. Oleh sebab itu, WHO terus mendorong riset mendalam dan pengembangan vaksin secara cepat guna mencegah terjadinya pandemi global di masa depanA***








