SUNGAI PENUH – Sebanyak 190 pemangku adat Luhah Rio Jayo yang terdiri atas 92 Depati dan 98 Permanti resmi menerima pengukuhan dalam prosesi adat Kenduri Sko Enam Luhah Sungai Penuh. Prosesi yang berlangsung di Tanah Mendapo pada Minggu (5/7/2026) itu menjadi penanda berlanjutnya kepemimpinan adat sekaligus komitmen menjaga warisan budaya masyarakat Kerinci.
Pengukuhan tersebut bukan sekadar pemberian gelar adat, melainkan juga penyerahan amanah kepada para pemangku adat untuk menjaga nilai-nilai, aturan, dan kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur.
Ninik Mamak Luhah Rio Jayo, Depati Anshori, mengatakan seluruh tahapan Kenduri Sko di Luhah Rio Jayo telah selesai dilaksanakan dengan berakhirnya prosesi penobatan para Depati dan Permanti.
Menurutnya, seluruh rangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan memiliki makna mendalam karena merupakan cerminan tradisi yang diwariskan oleh para pendahulu.
“Apa yang telah kita laksanakan selama Kenduri Sko adalah bagian dari warisan leluhur. Nilai-nilai itu harus terus dijaga dan dikenalkan kepada anak cucu agar adat tetap hidup di tengah masyarakat,” ujarnya, Senin (6/7/2026).
Ia menilai kebersamaan yang terjalin selama pelaksanaan Kenduri Sko menjadi modal penting untuk mempertahankan persatuan masyarakat adat di masa mendatang.
Karena itu, ia mengajak seluruh masyarakat agar terus memperkuat tali silaturahmi dan menjaga kekompakan yang telah terbangun selama kegiatan berlangsung.
Selain itu, Depati Anshori mengingatkan para pemangku adat yang baru dikukuhkan agar memegang teguh sumpah adat atau perbayo yang telah diikrarkan saat prosesi penobatan di Tanah Mendapo.
Menurutnya, sumpah tersebut bukan sekadar seremonial, melainkan menjadi pedoman moral dalam menjalankan tugas sebagai pemimpin adat sekaligus panutan bagi masyarakat.
Di penghujung kegiatan, ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh unsur masyarakat yang telah mendukung suksesnya Kenduri Sko Luhah Rio Jayo.
Ucapan terima kasih disampaikan kepada ninik mamak, dusanak batino, anak batino, anak jantan, panitia pelaksana, masyarakat Luhah Rio Jayo, hingga keluarga besar Luhah Rio Singaro yang turut bergotong royong menyukseskan seluruh rangkaian acara.
“Keberhasilan Kenduri Sko ini adalah hasil kerja bersama. Semangat gotong royong dan kebersamaan yang ditunjukkan masyarakat menjadi bukti bahwa adat masih hidup dan terus dijaga oleh seluruh anak kemenakan,” tutupnya.
Penulis : Arshaka
Editor : Tim Redaksi
















